"Kamu kalau suka sama cowok, harus nunjukin tapi juga gak boleh terlalu agresif. Sabar aja...", kata dia.
"ooh gitu, ya kak?", kataku. "Yap. Yaa harus ada jual mahalnya dikitlah...hehehe", balasnya. "Ah, kakak bisa aja", kataku.
Beberapa hari kemudian, aku berpacaran dengan teman laki-laki yang sudah lama aku suka. Sebelumnya, anak laki-laki itu berpacaran dengan salah satu sahabatku di gereja. Saat itu, aku mengalah. Namun, ketika mereka putus dan anak-anak laki-laki itu mendekatiku, saran untuk sedikit jual mahal dan tidak terlalu agresif itu aku jalankan. Hasilnya? Aku berpacaran dengan anak laki-laki yang aku suka itu.
Waktu berlalu, setahun kemudian....
"Adik-adik, hari ini kakak terakhir mengajar sekolah minggu bersama kalian", katanya.
"Wah, kakak emang mau kemana?" kata salah satu temanku. "Kakak akan menuntut ilmu ke luar negri adik-adik. Biar tambah pintar", jawabnya. "Iya tuh, si kakak mau ke Australia. Kerena,ya? hehehe" timpal salah satu temannya.
"Wow, take care, ya, kak. Selamat menuntut ilmu. Oiya, saya lagi naksir cowok lain padahal, kak. Butuh saran nih...", kataku. "Ah, kamu pasti bisa. Inget aja saran kakak waktu. hehe. Sampai ketemu lagi, ya. Rajin-rajin sekolah minggu-nya", katanya sambil berjabat dan tersenyum.
Saat itu, aku hanya membalas senyumnya dan sibuk dengan memperbaiki penampilan dan tata bicara agar laki-laki yang aku suka melihat aku dengan sempurna. Tanpa sadar, ia ternyata sudah pergi ke Australia kurang lebih dua minggu dan kehadirannya yang biasa meramaikan suasana sekolah minggu semakin lama semakin dirindukan. Padahal, saat ia akhirnya berangkat ke Australia, tidak sedikit pun aku terpikir akankah kita bertemu lagi atau bagaimana suasana sekolah minggu ini akan berjalan tanpa dirinya.,
No comments:
Post a Comment